Tiba-Tiba Datang

Bagaimana bila, suatu pagi kau terbangun dengan rasa yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Mendadak kau ingin berteriak, menangis, dan marah. Di dadamu ada segumpal rasa yang tiada pernah ada sebelumnya. Seperti siang terik yang tiba-tiba tergantikan oleh mendung dan guntur yang menggelegar.

Pagi itu terjadi.

Terjadi pada jiwa yang tertidur sementara, lalu terbangun oleh malam yang belum tuntas. Mendadak peluh bertetesan, pipi basah karena sebab yang tak semestinya, jantung berdegup kencang. Lalu perasaan benci itu tiba-tiba muncul tak bertuan. Benci pada setiap hal yang terkenang. Pada setiap barang yang tergeletak di kotak harta karun. Pada setiap langkah yang mempertemukan. Pada mata yang tiba-tiba beradu pandang.

Semoga suatu pagi nanti, terganti lagi olehnya yang lebih mendamaikan.

Setahun Terakhir

Hai, hampir setahun tidak menulis di sini. Bisa dibilang, hibernasi. Banyak hal yang terjadi selama kurang lebih setahun ini. Sebenarnya tidak 100% hibernasi dari menulis sih. Aku masih tetap menulis di media lain, yaitu Instagram untuk caption foto.

Setahun ini aku banyak belajar. September 2015 lalu aku mulai memasuki dunia baru sebagai mahasiswa Magister Ilmu Komputer UI, dan sekarang sudah memasuki semester 3 yang insya Allah semester terakhir (doakan yaa). Banyak hal yang berbeda dengan ketika menjadi mahasiswa sarjana. Kami pastinya dituntut lebih dewasa dan mandiri. Lebih peka terhadap keadaan sekitar. Lebih bisa me-manage ­diri kami. Lebih banyak membaca. Lebih banyak bertanya. Lebih banyak mencaritahu sendiri. Kami belajar bahwa kami harus mengalahkan diri kami sendiri, karena menurutku, di masa studi kali ini suasananya lebih “lo lo gue gue”. Tidak ada lagi suasana mengerjakan tugas bersama seperti saat masa kuliah sarjana dulu, saling mengingatkan, dan lain-lain. Ditambah lagi kuliah-kuliah yang aku ambil tidak memiliki irisan yang banyak dengan teman-temanku. Semakin sedikit waktu untuk bertemu. Well, that’s life. Semua akan mengajarkan kita berbagai hal.

Lanjutkan membaca “Setahun Terakhir”

November (4) : Rahasia Bumi

Hari ini kuliah Matematika Dasar 1. Kuliah yang memiliki kata “dasar” di namanya semester ini ada 3 dari 5 yang aku harus ambil. Di sini, semester 1 memang sistemnya dipaketkan. Semacam kita diberi satu paket buku yang isinya 5, dan harus kita habiskan dalam satu semester.

Masih lima menit lagi menuju jam delapan. Kulihat teman-temanku sudah ramai mengisi kelas. Sambil menunggu, mereka ngobrol-ngobrol ringan. Aku memasuki kelas. Teman-teman menyapaku. Aku mimilih bangku di baris yang kedua. Kulihat bangku di deretan pertama belum ada yang menempati.

Lanjutkan membaca “November (4) : Rahasia Bumi”

November (3) : Kesempatan

Hari-hari di bulan November hampir selalu diliputi awan. Entah ia akan menurunkan hujan, atau disimpannya sendiri. Tapi aku menikmati, meski tak jarang juga yang mengutuknya. Bagaimana aku akan membenci, aku lahir di bulan ini, saat mendung pekat menyelimuti. Aku terlalu cinta November dan hujan.

“Yah, mendung lagi. Kalau hujan gimana pulangnya.”
“Hujan kan rezeki, Boy. Nikmatin ajalah,” kataku sambil mengemasi tas.
“Kantin yuk.”

Bumi sepertinya dianugerahi pemahaman yang baik. Satu kalimat singkat, ia langsung mengerti. Meski kadang kalau memiliki argumen, ia akan mati-matian mempertahankan. Kalau yakin benar, tentu saja. Bumi tidak keras kepala kok.

“Pakde, mau dua teh panas ya. Yang satu gulanya dikit aja,” aku memesan 2 gelas teh untuk kami.

Aku menghampiri tempat duduk yang ditempati Bumi. Ada beberapa teman kami di sana. Maklum, sehabis mengikuti sesi lab, kantin pasti penuh. Apalagi di sore yang berangin ini. Teh hangat dan indomie rebus adalah menu favorit kami. Tak jarang, Pakde, kewalahan memenuhi pesanan para mahasiswa.

“Nih, tehnya. Gulanya dikit.”
“Thanks ya. Gimana labnya tadi? Bisa compile?”
“Duh aku kayaknya salah jurusan Mi. Bukan aku banget ngurusin begituan. Gak bisa dibaca.”
“Lebay amat salah jurusan,” Bumi menanggapi dengan santai. Ia menyesap air tehnya.

Kami baru saja mengikuti sesi perkenalan dengan coding di lab tadi. Ini adalah bagian dari kuliah Dasar-Dasar Pemrograman yang bobotnya 6 SKS. Padahal hanya disuruh mengetikkan apa yang kakak asisten dosen contohkan, lalu compile, dan run programnya. Tetap saja aku masih tidak mengerti.

“Ya gimana. Liat baris-baris code aja aku nggak ngerti. Mending disuruh bikin puisi deh.”
“Puisi?”

Aku belum bercerita kepadanya bahwa sebenarnya aku ingin kuliah di jurusan Sastra Indonesia. Mau jadi penulis, ceritanya. Namun, orang tuaku tidak mengizinkan.

“Iya, puisi. Aku suka nulis. Pengen jadi penulis. Nerbitin buku gitu.”
“Kan tadi juga nulis. Nulis code.”
“Gak lucu ah. Lagian kayaknya aku nggak bakat kuliah di sini. Susah banget kayaknya.”
“Tiap orang kan emang punya bakat masing-masing.”
“Dan tempat buat bakatku nggak di sini.”
“Siapa bilang? Kamu sekarang punya kesempatan di sini. Tinggal mau dimanfaatin atau nggak.”
“Kesempatan?”

Bumi menjelaskan,”Iya, kesempatan. Sekarang buktinya kamu ada di sini kan. Entah kamu merasa salah jalan atau nggak, yang jelas sekarang kamu ada di sini. Kuliah baru dua minggu. Semester ini masih ada 3,5 bulan lagi. Coba aja dulu. Kalau kamu yakin kamu salah jalan, belok aja.”

Aku menyimak.

“Manfaatin kesempatan belajar yang udah dikasih Allah. Jangan sia-siain. Banyak loh orang yang pengen masuk sini. Kalau tau kamu di awal udah mau nyerah, gimana perasaan mereka. Pastiin jalan ini adalah kendaraan kamu buat sampai di tujuanmu. Kalau emang bukan, masih banyak cara lain kan?

Aku masih diam. Sesekali menyeruput teh yang perlahan kehilangan panasnya.

“Jalanin dulu. Kali aja di tengah-tengah kamu jatuh cinta.”

Kesempatan, mungkin memang tidak datang dua kali. Kita dituntut untuk bijaksana dalam menyikapinya. Persoalan ambil atau tidak, mestinya kita dapat mempertanggungjawabkannya. Dan atas konsekuensi setelahnya, kita juga mesti siap. Siap kalau ternyata salah jalan, mesti menyadari, lalu belok, dan menemukan jalan yang benar. Agar kita sampai ke tujuan. Siap kalau banyak rintangannya, hadapi dengan senyuman. Siap untuk mengalahkan ego atas diri sendiri juga.

“Maghrib, La. Sholat yuk.”

Matahari mungkin sudah tenggelam di balik mendung itu. Aku tidak melihatnya, tapi yakin kalau matahari ada di sana. Dan satu hari lagi berlalu. Aku menyadari bahwa diberi kesempatan mengenal bocah ini, adalah tidak boleh dilewatkan. Bukan tujuanku, tapi mungkin tujuan kita sama.

Depok, 3 November 2015
@diptatanaya​

November (2) : Namaku Langit

Namaku Langit. Langit Novemberia. Sudah tertebak, kan, artinya? Ya, konon katanya, ibuku pengagum langit. Ia suka sekali memandang langit, terutama langit kala senja dan saat malam hari. Jingganya indah, dan langit malam selalu menentramkan karena adanya bulan dan bintang. Tapi, ia tidak suka langit ketika hujan akan turun. Kelabu, katanya. Oh ya, Novemberia. Karena aku dilahirkan di bulan November. Tepat sehari sebelum bulan Desember.

Ketika hujan turun, aku selalu terkenang kisah yang ibu ceritakan saat melahirkanku. Saat itu langit berwarna pekat, tanda akan hujan deras. Di rumah sakit, ibuku sudah masuk ke ruang bersalin. Sepertinya aku mulai tidak sabar melihat dunia. Dan saat itu ayahku belum pulang dari tempat kerjanya, sepertinya masih di dalam perjalanan. Ketika aku sudah menangis setengah berteriak memasuki dunia baru, ayahku datang dengan pakaian basah kuyup. Kata ibuku, ayah sebenarnya menangis terharu. Tapi air hujan menghapus jejak-jejak air mata di pipinya.

“Nak, langit itu luas. Kita tidak pernah tahu di mana ujungnya. Semoga, nanti kamu juga memiliki hati selapang dan seluas langit ya. Karena hidup ini sangat keras. Kau harus berjuang, untuk kehidupanmu selanjutnya. Dan perjuangan itu memerlukan hati yang bersih dan lapang untuk menjalaninya,” pesan ibuku suatu hari.

Bumi mengagetkanku, “Hei, melamun saja. Ayo, buruan ke lab. Hujannya sudah reda.”

Bumi adalah teman pertamaku di fakultas ini. Sejak perkenalan kami, rasanya kami sudah akrab seperti saudara. Efek nama, mungkin. Langit dan Bumi. Bumi ini adalah laki-laki super duper rapi yang pernah aku kenal. Mungkin dia bergolongan darah A. Ah, entahlah. Buat apa juga aku memikirkan golongan darahnya. Kami berjalan setengah berlari menuju Fasilkom dari perpus pusat. Sesi lab mata kuliah Dasar-Dasar Pemrograman akan dimulai dalam waktu 10 menit lagi.

“Mi, jangan buru-buru dong jalannya. Ntar kecipratan kenangan. Eh, genangan air maksudnya.”

“Ah lebay. Hujan gini doang disangkut-sangkutin sama kenangan. Masa depan dong dipikirin, jangan kenangan mulu. Kayak orang tua aja. Hahaha.”

Ah, laki-laki ini pragmatis sekali. Tidak bisa diajak melankolis sedikit.

“Haft. Susah deh ngomong sama juara olimpiade.”

“Sensi amat, Mbak? Hahaha. Mengenang itu nggak selalu pas hujan kayak gini. Aku lebih suka mengobrak-abrik kenangan, dan merapikannya, saat di perjalanan. Saat aku duduk di samping jendela. Apalagi di jendela pesawat. Aku bisa memandang langit sepuasnya.”

“Langit?”

“Langit beneran. Bukan Langit Novemberia. Bangun, Mbak, bangun.”

Namaku Langit Novemberia. Lahir di bulan November, dari seorang ibu pengagum langit. Kelahiranku membuat hari terakhir di bulan November kedua orang tuaku ceria, di saat langit sedang sering-seringnya mendung. Ibu berharap aku menjadi perempuan yang tabah dan kuat. Ayah mendoakanku agar menjadi wanita yang arif dan bijaksana. Dan kalian bisa memanggilku Langit.

Depok, 2 November 2015
@diptatanaya

***********

Cerita ini merupakan lanjutan dari cerita November (1). Ditulis untuk memenuhi tantangan diri sendiri dan tantangan #SatuSeminggu. Cerita ini terinspirasi dari sebuah puisi yang saya tulis sendiri satu tahun lalu. Ini puisinya.

Tigabelas – Hujan Bulan November

Tigabelas November.

Kalau Sapardi bilang tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, bagiku ada, yaitu hujan bulan November. Bukan karena ia merahasiakan titik rindu pada pohon berbunga itu, melainkan karena ia menyembunyikan titik air mata padamu.

Kalau Sapardi bilang tak ada yang lebih bijak dari bulan Juni, bagiku ada, yaitu hujan bulan November. Bukankarena terhapusnya jejak keraguan itu. Tapi karena ia mengalirkan kenangan. Bukan untuk disesali, tapi demi harapan di masa depan.

Kalau Sapardi bilang tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni, bagiku ada, yaitu hujan bulan November. Tapi kali ini sama, agar yang tak terucap, terserap oleh akar itu. Agar ia menumbuhkan rindu.

November (1) : Pertama Kali

Pertama dan terakhir aku membayangkan bisa masuk kampus ini adalah sekitar tahun 2009, saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu aku sedang dalam perjalanan liburan bersama saudaraku, dan aku melewati Gerbatama.

Aku membayangkan, “Keren kali ya bisa masuk UI.”

Dulu kukira aku hanya bisa membayangkan saja. Meminta izin untuk kuliah di tempat yang jauh mungkin hal yang berat untuk dilakukan. Tapi anggapanku salah. Dengan restu kedua orang tuaku, senja ini aku berada di sini. Di Taman Lingkar Perpustakaan Pusat UI, menunggu kehadiran teman – temanku, yang bahkan aku tak tahu seperti apa wajah mereka. Hanya berbekal dresscode merah dan biru, aku mungkin nanti bisa mengenali mereka. Tapi sedari tadi aku tidak berani menyapa satu orang pun di sini. Aku diam mengamati satu per satu orang yang lalu lalang di sekitar taman ini, menebak – nebak apakah mereka teman seangkatanku atau bukan.

Lanjutkan membaca “November (1) : Pertama Kali”

Fase Selanjutnya

20151017_095549

Hai blog, lama tidak berjumpa. Maaf ya, 1,5 bulan ini aku menghilang. Tidak, tidak menghilang secara harfiah. Hanya menghilang dari peredaran tulis menulis. Nah sekarang aku akan bercerita mengenai 1,5 bulan sejak wisuda sarjana akhir Agustus lalu.

Di persimpangan jalan ini ada banyak pilihan yang bisa aku ambil, actually. Melamar di perusahaan atau startup, melanjutkan sekolah, menjadi asisten dosen di kampus, atau menikah (?). Haha yang terakhir sepertinya bukan pilihan, tapi merupakan fase selanjutnya yang sedang disusun olehNya. Di setiap pilihan tersebut juga masih terdapat pilihan-pilihan lain. Misalnya di perusahaan mana, atau kalau melanjutkan sekolah, sekolah di mana. Hidup memang penuh pilihan ya. 🙂

Lanjutkan membaca “Fase Selanjutnya”