November (5) : Yakin Saja

Aku masih bingung apa yang Bumi rahasiakan (baca episode 4 di sini). Bumi sepertinya bukan tipe orang yang bisa percaya pada sembarang orang, apalagi yang baru dikenalnya. Ya contohnya aku ini. Baru juga beberapa minggu lalu kami berkenalan. Ah sudahlah, tidak penting juga. Aku bergegas menuju kelas berikutnya.

“La!”

Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata Aksa. Dia temanku juga.

Continue reading “November (5) : Yakin Saja”

Ada banyak hal yang coba kita hentikan, tetapi tidak bisa. Sekuat apapun tenaga dan pikiran yang telah diberdayakan. Alam sadar menyatakan bahwa semua harus disudahi. Lalu dikerahkannya anggota tubuh. Namun mungkin belum mampu mendobrak pintu-pintu yang terkunci rapat. Belum mampu mematahkan dahan-dahan yang tinggi. Belum mampu mencabut akar yang menghujam. Hingga lelah, lalu kalah.

Kotak Surat

Malam ini saya membuka kotak surat. Lalu saya terpaku pada sebuah kertas yang isinya adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh beberapa orang.

Suatu malam di tahun 2014 : apa yang Anda harapkan dari “semua ini” dan apa yang membuat Anda bertahan? Saya lupa jawaban apa yang saya berikan waktu itu. Tapi malam ini saya kembali berpikir akan pertanyaan tersebut.

Saya tidak pernah meminta untuk berada dalam situasi tersebut. Terbayang sedikitpun tidak sama sekali. Saya pun sampai sekarang belum mengerti apa yang Allah rencanakan melalui jalan tersebut. Yang terus saya yakini adalah, bahwa jalan ini adalah sarana saya yang Allah tunjukkan untuk memperbaiki diri.

Satu-satunya harapan dari “semua ini” adalah agar saya dapat terus bertahan dalam “semua ini” tersebut. Saya tidak berani berharap jalan ini memberikan banyak hal untuk saya. Justru saya sekarang menjadi bertanya-tanya, apa yang sudah bisa saya berikan?

Lalu apa yang membuat saya bertahan selama ini? Berbaik sangka pada Allah yang telah menunjukkan jalan ini. Meskipun awalnya penuh gejolak (kok lebay -_-), di 2014 pertengahan sempat putus asa, dan lika liku lainnya.. Namun saya tetap yakin bahwa Allah memang sedang menuntun saya untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, dengan semua ini.

Kemudian saya membuka surat selanjutnya. Saya tersenyum. Terima kasih, ya.

Waktu berlari sangat cepat. Pundak kita harus semakin kuat. Jiwa harus semakin tegar. Pemikiran kita harus semakin dewasa. Dan hati kita harus semakin lapang, seluas langit yang menaungi bumi kita. Kemampuan berpikir kita makin diuji. Kesabaran kita pun demikian.

Orang-orang datang, pergi, kembali, atau menghilang selamanya. Tapi yang di hati, akan tetap dihati. Mengakar sampai dalam. Menjulang tinggi mengangkasa. Bahkan ketika kita tidak menyadari, jangan-jangan kita sudah tidak bisa mengendalikannya. Bahkan ketika kita tidak menyadari, jangan-jangan kita sedang menyakiti hati dan jiwa kita sendiri.

Teruslah bergerak. Kita tidak akan sempat untuk sedih.

 

Tiba-Tiba Datang

Bagaimana bila, suatu pagi kau terbangun dengan rasa yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Mendadak kau ingin berteriak, menangis, dan marah. Di dadamu ada segumpal rasa yang tiada pernah ada sebelumnya. Seperti siang terik yang tiba-tiba tergantikan oleh mendung dan guntur yang menggelegar.

Pagi itu terjadi.

Terjadi pada jiwa yang tertidur sementara, lalu terbangun oleh malam yang belum tuntas. Mendadak peluh bertetesan, pipi basah karena sebab yang tak semestinya, jantung berdegup kencang. Lalu perasaan benci itu tiba-tiba muncul tak bertuan. Benci pada setiap hal yang terkenang. Pada setiap barang yang tergeletak di kotak harta karun. Pada setiap langkah yang mempertemukan. Pada mata yang tiba-tiba beradu pandang.

Semoga suatu pagi nanti, terganti lagi olehnya yang lebih mendamaikan.

Setahun Terakhir

Hai, hampir setahun tidak menulis di sini. Bisa dibilang, hibernasi. Banyak hal yang terjadi selama kurang lebih setahun ini. Sebenarnya tidak 100% hibernasi dari menulis sih. Aku masih tetap menulis di media lain, yaitu Instagram untuk caption foto.

Setahun ini aku banyak belajar. September 2015 lalu aku mulai memasuki dunia baru sebagai mahasiswa Magister Ilmu Komputer UI, dan sekarang sudah memasuki semester 3 yang insya Allah semester terakhir (doakan yaa). Banyak hal yang berbeda dengan ketika menjadi mahasiswa sarjana. Kami pastinya dituntut lebih dewasa dan mandiri. Lebih peka terhadap keadaan sekitar. Lebih bisa me-manage ­diri kami. Lebih banyak membaca. Lebih banyak bertanya. Lebih banyak mencaritahu sendiri. Kami belajar bahwa kami harus mengalahkan diri kami sendiri, karena menurutku, di masa studi kali ini suasananya lebih “lo lo gue gue”. Tidak ada lagi suasana mengerjakan tugas bersama seperti saat masa kuliah sarjana dulu, saling mengingatkan, dan lain-lain. Ditambah lagi kuliah-kuliah yang aku ambil tidak memiliki irisan yang banyak dengan teman-temanku. Semakin sedikit waktu untuk bertemu. Well, that’s life. Semua akan mengajarkan kita berbagai hal.

Continue reading “Setahun Terakhir”

November (4) : Rahasia Bumi

Hari ini kuliah Matematika Dasar 1. Kuliah yang memiliki kata “dasar” di namanya semester ini ada 3 dari 5 yang aku harus ambil. Di sini, semester 1 memang sistemnya dipaketkan. Semacam kita diberi satu paket buku yang isinya 5, dan harus kita habiskan dalam satu semester.

Masih lima menit lagi menuju jam delapan. Kulihat teman-temanku sudah ramai mengisi kelas. Sambil menunggu, mereka ngobrol-ngobrol ringan. Aku memasuki kelas. Teman-teman menyapaku. Aku mimilih bangku di baris yang kedua. Kulihat bangku di deretan pertama belum ada yang menempati.

Continue reading “November (4) : Rahasia Bumi”