November (1) : Pertama Kali

Pertama dan terakhir aku membayangkan bisa masuk kampus ini adalah sekitar tahun 2009, saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu aku sedang dalam perjalanan liburan bersama saudaraku, dan aku melewati Gerbatama.

Aku membayangkan, “Keren kali ya bisa masuk UI.”

Dulu kukira aku hanya bisa membayangkan saja. Meminta izin untuk kuliah di tempat yang jauh mungkin hal yang berat untuk dilakukan. Tapi anggapanku salah. Dengan restu kedua orang tuaku, senja ini aku berada di sini. Di Taman Lingkar Perpustakaan Pusat UI, menunggu kehadiran teman – temanku, yang bahkan aku tak tahu seperti apa wajah mereka. Hanya berbekal dresscode merah dan biru, aku mungkin nanti bisa mengenali mereka. Tapi sedari tadi aku tidak berani menyapa satu orang pun di sini. Aku diam mengamati satu per satu orang yang lalu lalang di sekitar taman ini, menebak – nebak apakah mereka teman seangkatanku atau bukan.

Sambil menunggu ada yang menanyaiku—karena aku sangat sungkan menyapa orang terlebih dahulu—aku menerawang ke masa saat aku amat sangat memperjuangkan mimpiku. Dulu sekali aku harus berangkat dari rumah kosku pukul 05.45, karena kelas dimulai pukul 06.00, untuk anak – anak kelas 3. Saat itu pikiranku benar – benar   untuk belajar dan terus belajar, memanfaatkan tambahan jam pelajaran yang diberikan guru – guruku. Siangnya, setelah kelas selesai, aku mampir ke kos untuk ganti baju. Kemudian aku berangkat lagi menuju bimbingan belajar yang hanya sepelemparan batu dari rumah kosku. Aku tak hanya mendapat tambahan pelajaran, tetapi juga mendapat tempat konsultasi untuk jurusan. Siapa sih yang tidak galau saat menjelang pendaftaran perguruan tinggi?

Aku tidak pernah berpikir untuk mewujudkan gumamanku saat tahun 2009 lalu. Sampai suatu ketika, temanku mendorongku untuk mendaftarkan diri untuk memperebutkan formulir PPKB UI yang hanya berjumlah tujuh buah untuk sekolahku.

“Ayo, kamu harus daftar. Sayang kan kalau gak nyobain.”

“Orang tuaku emang bakal ngijinin? Hmm gimana ya.”

“Udah coba submit nilai kamu dulu, urusan izin belakangan.”

Kemudian aku menulis namaku di daftar anak yang memperebutkan formulir PPKB UI. Timbul masalah baru. Aku harus menulis jurusan apa? Beberapa temanku yang sudah menulis namanya memilih jurusan Pendidikan Dokter. Beberapa memilih jurusan di Fakultas Teknik. Lainnya FISIP, FE, dan MIPA. Setelah proses eliminasi jurusan yang ada di UI, aku menulis pada kolom jurusan : Ilmu Komputer.

Aku tidak pernah berharap untuk mendapatkan formulir itu, sejujurnya. Aku baru merasa optimis ketika kedua orang tuaku memberikan izin untuk mendaftar PPKB UI. Ternyata jalanku tak semulus yang aku kira. Tanggal 22 Januari, jalur PPKB UI dialihkan ke SNMPTN Undangan. Lemas rasanya. Aku tak yakin akan memilih UI sebagai pilihan pertama. Tapi tak disangka, orang tuaku malah mendukungku untuk menempatkan UI di pilihan pertama.

Dengan restu kedua orang tuaku, senja ini aku berada di sini. Di Taman Lingkar Perpustakaan Pusat UI, menunggu kehadiran teman – temanku, yang bahkan aku tak tahu seperti apa wajah mereka. Hanya berbekal dresscode merah dan biru, aku mungkin nanti bisa mengenali mereka. Tapi sedari tadi aku tidak berani menyapa satu orang pun di sini. Aku diam mengamati satu per satu orang yang lalu lalang di sekitar taman ini, menebak – nebak apakah mereka teman seangkatanku atau bukan.

Tiba – tiba ada seorang laki – laki berkemeja merah kotak – kotak mendekat ke tempat dudukku. Perawakannya tinggi, rambut rapi, tidak berkaca mata. Ia membawa tas ransel seperti mahasiswa kebanyakan. Tak ada yang istimewa dari penampilannya. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang berbeda dari dirinya. Mungkin. Aku tidak pernah tahu, karena aku juga tak mengenalnya. Ia kemudian duduk di sebelahku.
“Boleh aku duduk di sini?”

“Tentu.”

“Langit. Fasilkom 2011,” kataku bersamaan dengan ucapannya, “Bumi. Fasilkom 2011.”

Aku tak bisa jelas mendengar namanya, karena kita mengucap perkenalan secara bersamaan.

“Maaf, siapa namamu?”

“Bumi. Fasilkom 2011.”

“Aku Langit. Fasilkom 2011.”

Aku Langit. Dia Bumi. Senja itu kami tertegun. Ada yang berdesir di dalam hatiku saat mendengar namanya. Setelah perkenalan yang amat sangat singkat itu kita terdiam. Kita sama – sama menatap langit yang sedetik kemudian memerah, mengantarkan burung – burung di angkasa berarak entah ke mana.

Depok, 1 November 2015

@diptatanaya

Iklan

2 pemikiran pada “November (1) : Pertama Kali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s