November (2) : Namaku Langit

Namaku Langit. Langit Novemberia. Sudah tertebak, kan, artinya? Ya, konon katanya, ibuku pengagum langit. Ia suka sekali memandang langit, terutama langit kala senja dan saat malam hari. Jingganya indah, dan langit malam selalu menentramkan karena adanya bulan dan bintang. Tapi, ia tidak suka langit ketika hujan akan turun. Kelabu, katanya. Oh ya, Novemberia. Karena aku dilahirkan di bulan November. Tepat sehari sebelum bulan Desember.

Ketika hujan turun, aku selalu terkenang kisah yang ibu ceritakan saat melahirkanku. Saat itu langit berwarna pekat, tanda akan hujan deras. Di rumah sakit, ibuku sudah masuk ke ruang bersalin. Sepertinya aku mulai tidak sabar melihat dunia. Dan saat itu ayahku belum pulang dari tempat kerjanya, sepertinya masih di dalam perjalanan. Ketika aku sudah menangis setengah berteriak memasuki dunia baru, ayahku datang dengan pakaian basah kuyup. Kata ibuku, ayah sebenarnya menangis terharu. Tapi air hujan menghapus jejak-jejak air mata di pipinya.

“Nak, langit itu luas. Kita tidak pernah tahu di mana ujungnya. Semoga, nanti kamu juga memiliki hati selapang dan seluas langit ya. Karena hidup ini sangat keras. Kau harus berjuang, untuk kehidupanmu selanjutnya. Dan perjuangan itu memerlukan hati yang bersih dan lapang untuk menjalaninya,” pesan ibuku suatu hari.

Bumi mengagetkanku, “Hei, melamun saja. Ayo, buruan ke lab. Hujannya sudah reda.”

Bumi adalah teman pertamaku di fakultas ini. Sejak perkenalan kami, rasanya kami sudah akrab seperti saudara. Efek nama, mungkin. Langit dan Bumi. Bumi ini adalah laki-laki super duper rapi yang pernah aku kenal. Mungkin dia bergolongan darah A. Ah, entahlah. Buat apa juga aku memikirkan golongan darahnya. Kami berjalan setengah berlari menuju Fasilkom dari perpus pusat. Sesi lab mata kuliah Dasar-Dasar Pemrograman akan dimulai dalam waktu 10 menit lagi.

“Mi, jangan buru-buru dong jalannya. Ntar kecipratan kenangan. Eh, genangan air maksudnya.”

“Ah lebay. Hujan gini doang disangkut-sangkutin sama kenangan. Masa depan dong dipikirin, jangan kenangan mulu. Kayak orang tua aja. Hahaha.”

Ah, laki-laki ini pragmatis sekali. Tidak bisa diajak melankolis sedikit.

“Haft. Susah deh ngomong sama juara olimpiade.”

“Sensi amat, Mbak? Hahaha. Mengenang itu nggak selalu pas hujan kayak gini. Aku lebih suka mengobrak-abrik kenangan, dan merapikannya, saat di perjalanan. Saat aku duduk di samping jendela. Apalagi di jendela pesawat. Aku bisa memandang langit sepuasnya.”

“Langit?”

“Langit beneran. Bukan Langit Novemberia. Bangun, Mbak, bangun.”

Namaku Langit Novemberia. Lahir di bulan November, dari seorang ibu pengagum langit. Kelahiranku membuat hari terakhir di bulan November kedua orang tuaku ceria, di saat langit sedang sering-seringnya mendung. Ibu berharap aku menjadi perempuan yang tabah dan kuat. Ayah mendoakanku agar menjadi wanita yang arif dan bijaksana. Dan kalian bisa memanggilku Langit.

Depok, 2 November 2015
@diptatanaya

***********

Cerita ini merupakan lanjutan dari cerita November (1). Ditulis untuk memenuhi tantangan diri sendiri dan tantangan #SatuSeminggu. Cerita ini terinspirasi dari sebuah puisi yang saya tulis sendiri satu tahun lalu. Ini puisinya.

Tigabelas – Hujan Bulan November

Tigabelas November.

Kalau Sapardi bilang tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, bagiku ada, yaitu hujan bulan November. Bukan karena ia merahasiakan titik rindu pada pohon berbunga itu, melainkan karena ia menyembunyikan titik air mata padamu.

Kalau Sapardi bilang tak ada yang lebih bijak dari bulan Juni, bagiku ada, yaitu hujan bulan November. Bukankarena terhapusnya jejak keraguan itu. Tapi karena ia mengalirkan kenangan. Bukan untuk disesali, tapi demi harapan di masa depan.

Kalau Sapardi bilang tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni, bagiku ada, yaitu hujan bulan November. Tapi kali ini sama, agar yang tak terucap, terserap oleh akar itu. Agar ia menumbuhkan rindu.

Iklan

3 pemikiran pada “November (2) : Namaku Langit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s