November (4) : Rahasia Bumi

Hari ini kuliah Matematika Dasar 1. Kuliah yang memiliki kata “dasar” di namanya semester ini ada 3 dari 5 yang aku harus ambil. Di sini, semester 1 memang sistemnya dipaketkan. Semacam kita diberi satu paket buku yang isinya 5, dan harus kita habiskan dalam satu semester.

Masih lima menit lagi menuju jam delapan. Kulihat teman-temanku sudah ramai mengisi kelas. Sambil menunggu, mereka ngobrol-ngobrol ringan. Aku memasuki kelas. Teman-teman menyapaku. Aku mimilih bangku di baris yang kedua. Kulihat bangku di deretan pertama belum ada yang menempati.

Jam delapan kurang satu menit, Bu Nana memasuki ruangan. Langkahnya cepat, sambal membawa laptop pribadinya. Seisi kelas hening seketika.

Bu Nana menghela nafas dan tersenyum lebar, “Selamat pagi. Gimana hari Senin kalian? Semangat?”

Kami tersenyum, “Semangat Buuuu.”

“Di luar matahari sudah mulai tinggi. Hari ini kita akan belajar mengejar matahari. Pastikan bahwa yang ada di depan kalian adalah matahari. Bukan bayang-bayang kalian.”

Bu Nana mulai mengeluarkan jurus metafora.

“Kita akan cepat, pastikan kalian berpegangan. Kita harus bersama-sama. Jangan sampai ada yang tertinggal.”

Aku suka sekali mengikuti kelas beliau. Diam-diam, aku mencatat kalimat-kalimat yang beliau ucapkan. Mungkin bias kutulis di blog nanti.

Pertemuan kali ini membahas limit. Tidak, aku tidak akan menjelaskan apa itu limit. Ada sebuah filosofi hidup yang tersimpan pada pelajaran limit ini.

“Nak, hidup kita di dunia ini punya limit. Namun, kita tidak pernah tau nilainya berapa. Di titik mana hidup kita akan berakhir, kita tidak pernah tahu. Tapi itu adalah keniscayaan. Waktu membawa kita mendekati titik itu.”

Bu Nana menggambar ilustrasi.

“Kadang kita baik banget. Kadang juga kita nakal. Tapi, Nak, kita harus selalu bergerak menjadi orang baik. Karena semakin lama, kita semakin mendekati titik batas kita. Jangan sampai, ketika kita sudah berada di titik itu, kita masih jadi manusia yang nakal.”

Aku bingung, ini kuliah matematika atau kuliah kehidupan.

“Matematika itu indah. Ia ada di sekeliling kita tanpa kita sadari. Kita hanya perlu melihat lebih dekat dan mendengarkannya berbicara.”
Kuliah hari itu selesai. Bu Nana meninggalkan kelas dengan langkah cepat. Aku masih melongo dengan kata-kata dosen superku itu. Sampai-sampai aku lupa mencatat. Tapi biarlah, ini pasti teringat sampai nanti.

“La, jangan bengong,” Bumi menghempaskan diri ke kursi sebelahku yang kosong.

“Siapa yang bengong. Berisik ah.”

Pandangan Bumi menerawang.

“Kalau kita tahu limit hidup kita sendiri masih jauh, kita mungkin sekarang jadi anak nakal ya. Tobatnya nanti-nanti aja.”

“Justru kita jadi bisa melakukan banyak hal baik dong.”

“Itu sih kamu.”

“Hmm.”

“Bahkan, tidak tau limitpun, aku masih nakal, La. Tapi aku kapok sih. Saat aku masih nakal banget dulu, jaman kelas 3 SMP. Kupikir kita bisa seenaknya di dunia ini. Ternyata nggak. Aku ditegur. Ibuku mencapai titiknya. Saat anaknya ini masih jadi anak nakal.”

Aku menoleh.

“Aku mau jadi anak baik terus, La.”

Aku mengernyitkan dahi.

“Nih coklat. Jaga rahasia ya.”

Bumi berlalu.

Iklan

4 pemikiran pada “November (4) : Rahasia Bumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s