November (3) : Kesempatan

Hari-hari di bulan November hampir selalu diliputi awan. Entah ia akan menurunkan hujan, atau disimpannya sendiri. Tapi aku menikmati, meski tak jarang juga yang mengutuknya. Bagaimana aku akan membenci, aku lahir di bulan ini, saat mendung pekat menyelimuti. Aku terlalu cinta November dan hujan.

“Yah, mendung lagi. Kalau hujan gimana pulangnya.”
“Hujan kan rezeki, Boy. Nikmatin ajalah,” kataku sambil mengemasi tas.
“Kantin yuk.”

Bumi sepertinya dianugerahi pemahaman yang baik. Satu kalimat singkat, ia langsung mengerti. Meski kadang kalau memiliki argumen, ia akan mati-matian mempertahankan. Kalau yakin benar, tentu saja. Bumi tidak keras kepala kok.

“Pakde, mau dua teh panas ya. Yang satu gulanya dikit aja,” aku memesan 2 gelas teh untuk kami.

Aku menghampiri tempat duduk yang ditempati Bumi. Ada beberapa teman kami di sana. Maklum, sehabis mengikuti sesi lab, kantin pasti penuh. Apalagi di sore yang berangin ini. Teh hangat dan indomie rebus adalah menu favorit kami. Tak jarang, Pakde, kewalahan memenuhi pesanan para mahasiswa.

“Nih, tehnya. Gulanya dikit.”
“Thanks ya. Gimana labnya tadi? Bisa compile?”
“Duh aku kayaknya salah jurusan Mi. Bukan aku banget ngurusin begituan. Gak bisa dibaca.”
“Lebay amat salah jurusan,” Bumi menanggapi dengan santai. Ia menyesap air tehnya.

Kami baru saja mengikuti sesi perkenalan dengan coding di lab tadi. Ini adalah bagian dari kuliah Dasar-Dasar Pemrograman yang bobotnya 6 SKS. Padahal hanya disuruh mengetikkan apa yang kakak asisten dosen contohkan, lalu compile, dan run programnya. Tetap saja aku masih tidak mengerti.

“Ya gimana. Liat baris-baris code aja aku nggak ngerti. Mending disuruh bikin puisi deh.”
“Puisi?”

Aku belum bercerita kepadanya bahwa sebenarnya aku ingin kuliah di jurusan Sastra Indonesia. Mau jadi penulis, ceritanya. Namun, orang tuaku tidak mengizinkan.

“Iya, puisi. Aku suka nulis. Pengen jadi penulis. Nerbitin buku gitu.”
“Kan tadi juga nulis. Nulis code.”
“Gak lucu ah. Lagian kayaknya aku nggak bakat kuliah di sini. Susah banget kayaknya.”
“Tiap orang kan emang punya bakat masing-masing.”
“Dan tempat buat bakatku nggak di sini.”
“Siapa bilang? Kamu sekarang punya kesempatan di sini. Tinggal mau dimanfaatin atau nggak.”
“Kesempatan?”

Bumi menjelaskan,”Iya, kesempatan. Sekarang buktinya kamu ada di sini kan. Entah kamu merasa salah jalan atau nggak, yang jelas sekarang kamu ada di sini. Kuliah baru dua minggu. Semester ini masih ada 3,5 bulan lagi. Coba aja dulu. Kalau kamu yakin kamu salah jalan, belok aja.”

Aku menyimak.

“Manfaatin kesempatan belajar yang udah dikasih Allah. Jangan sia-siain. Banyak loh orang yang pengen masuk sini. Kalau tau kamu di awal udah mau nyerah, gimana perasaan mereka. Pastiin jalan ini adalah kendaraan kamu buat sampai di tujuanmu. Kalau emang bukan, masih banyak cara lain kan?

Aku masih diam. Sesekali menyeruput teh yang perlahan kehilangan panasnya.

“Jalanin dulu. Kali aja di tengah-tengah kamu jatuh cinta.”

Kesempatan, mungkin memang tidak datang dua kali. Kita dituntut untuk bijaksana dalam menyikapinya. Persoalan ambil atau tidak, mestinya kita dapat mempertanggungjawabkannya. Dan atas konsekuensi setelahnya, kita juga mesti siap. Siap kalau ternyata salah jalan, mesti menyadari, lalu belok, dan menemukan jalan yang benar. Agar kita sampai ke tujuan. Siap kalau banyak rintangannya, hadapi dengan senyuman. Siap untuk mengalahkan ego atas diri sendiri juga.

“Maghrib, La. Sholat yuk.”

Matahari mungkin sudah tenggelam di balik mendung itu. Aku tidak melihatnya, tapi yakin kalau matahari ada di sana. Dan satu hari lagi berlalu. Aku menyadari bahwa diberi kesempatan mengenal bocah ini, adalah tidak boleh dilewatkan. Bukan tujuanku, tapi mungkin tujuan kita sama.

Depok, 3 November 2015
@diptatanaya​

Iklan

November (2) : Namaku Langit

Namaku Langit. Langit Novemberia. Sudah tertebak, kan, artinya? Ya, konon katanya, ibuku pengagum langit. Ia suka sekali memandang langit, terutama langit kala senja dan saat malam hari. Jingganya indah, dan langit malam selalu menentramkan karena adanya bulan dan bintang. Tapi, ia tidak suka langit ketika hujan akan turun. Kelabu, katanya. Oh ya, Novemberia. Karena aku dilahirkan di bulan November. Tepat sehari sebelum bulan Desember.

Ketika hujan turun, aku selalu terkenang kisah yang ibu ceritakan saat melahirkanku. Saat itu langit berwarna pekat, tanda akan hujan deras. Di rumah sakit, ibuku sudah masuk ke ruang bersalin. Sepertinya aku mulai tidak sabar melihat dunia. Dan saat itu ayahku belum pulang dari tempat kerjanya, sepertinya masih di dalam perjalanan. Ketika aku sudah menangis setengah berteriak memasuki dunia baru, ayahku datang dengan pakaian basah kuyup. Kata ibuku, ayah sebenarnya menangis terharu. Tapi air hujan menghapus jejak-jejak air mata di pipinya.

“Nak, langit itu luas. Kita tidak pernah tahu di mana ujungnya. Semoga, nanti kamu juga memiliki hati selapang dan seluas langit ya. Karena hidup ini sangat keras. Kau harus berjuang, untuk kehidupanmu selanjutnya. Dan perjuangan itu memerlukan hati yang bersih dan lapang untuk menjalaninya,” pesan ibuku suatu hari.

Bumi mengagetkanku, “Hei, melamun saja. Ayo, buruan ke lab. Hujannya sudah reda.”

Bumi adalah teman pertamaku di fakultas ini. Sejak perkenalan kami, rasanya kami sudah akrab seperti saudara. Efek nama, mungkin. Langit dan Bumi. Bumi ini adalah laki-laki super duper rapi yang pernah aku kenal. Mungkin dia bergolongan darah A. Ah, entahlah. Buat apa juga aku memikirkan golongan darahnya. Kami berjalan setengah berlari menuju Fasilkom dari perpus pusat. Sesi lab mata kuliah Dasar-Dasar Pemrograman akan dimulai dalam waktu 10 menit lagi.

“Mi, jangan buru-buru dong jalannya. Ntar kecipratan kenangan. Eh, genangan air maksudnya.”

“Ah lebay. Hujan gini doang disangkut-sangkutin sama kenangan. Masa depan dong dipikirin, jangan kenangan mulu. Kayak orang tua aja. Hahaha.”

Ah, laki-laki ini pragmatis sekali. Tidak bisa diajak melankolis sedikit.

“Haft. Susah deh ngomong sama juara olimpiade.”

“Sensi amat, Mbak? Hahaha. Mengenang itu nggak selalu pas hujan kayak gini. Aku lebih suka mengobrak-abrik kenangan, dan merapikannya, saat di perjalanan. Saat aku duduk di samping jendela. Apalagi di jendela pesawat. Aku bisa memandang langit sepuasnya.”

“Langit?”

“Langit beneran. Bukan Langit Novemberia. Bangun, Mbak, bangun.”

Namaku Langit Novemberia. Lahir di bulan November, dari seorang ibu pengagum langit. Kelahiranku membuat hari terakhir di bulan November kedua orang tuaku ceria, di saat langit sedang sering-seringnya mendung. Ibu berharap aku menjadi perempuan yang tabah dan kuat. Ayah mendoakanku agar menjadi wanita yang arif dan bijaksana. Dan kalian bisa memanggilku Langit.

Depok, 2 November 2015
@diptatanaya

***********

Cerita ini merupakan lanjutan dari cerita November (1). Ditulis untuk memenuhi tantangan diri sendiri dan tantangan #SatuSeminggu. Cerita ini terinspirasi dari sebuah puisi yang saya tulis sendiri satu tahun lalu. Ini puisinya.

Tigabelas – Hujan Bulan November

Tigabelas November.

Kalau Sapardi bilang tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, bagiku ada, yaitu hujan bulan November. Bukan karena ia merahasiakan titik rindu pada pohon berbunga itu, melainkan karena ia menyembunyikan titik air mata padamu.

Kalau Sapardi bilang tak ada yang lebih bijak dari bulan Juni, bagiku ada, yaitu hujan bulan November. Bukankarena terhapusnya jejak keraguan itu. Tapi karena ia mengalirkan kenangan. Bukan untuk disesali, tapi demi harapan di masa depan.

Kalau Sapardi bilang tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni, bagiku ada, yaitu hujan bulan November. Tapi kali ini sama, agar yang tak terucap, terserap oleh akar itu. Agar ia menumbuhkan rindu.

November (1) : Pertama Kali

Pertama dan terakhir aku membayangkan bisa masuk kampus ini adalah sekitar tahun 2009, saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu aku sedang dalam perjalanan liburan bersama saudaraku, dan aku melewati Gerbatama.

Aku membayangkan, “Keren kali ya bisa masuk UI.”

Dulu kukira aku hanya bisa membayangkan saja. Meminta izin untuk kuliah di tempat yang jauh mungkin hal yang berat untuk dilakukan. Tapi anggapanku salah. Dengan restu kedua orang tuaku, senja ini aku berada di sini. Di Taman Lingkar Perpustakaan Pusat UI, menunggu kehadiran teman – temanku, yang bahkan aku tak tahu seperti apa wajah mereka. Hanya berbekal dresscode merah dan biru, aku mungkin nanti bisa mengenali mereka. Tapi sedari tadi aku tidak berani menyapa satu orang pun di sini. Aku diam mengamati satu per satu orang yang lalu lalang di sekitar taman ini, menebak – nebak apakah mereka teman seangkatanku atau bukan.

Continue reading “November (1) : Pertama Kali”

Fase Selanjutnya

20151017_095549

Hai blog, lama tidak berjumpa. Maaf ya, 1,5 bulan ini aku menghilang. Tidak, tidak menghilang secara harfiah. Hanya menghilang dari peredaran tulis menulis. Nah sekarang aku akan bercerita mengenai 1,5 bulan sejak wisuda sarjana akhir Agustus lalu.

Di persimpangan jalan ini ada banyak pilihan yang bisa aku ambil, actually. Melamar di perusahaan atau startup, melanjutkan sekolah, menjadi asisten dosen di kampus, atau menikah (?). Haha yang terakhir sepertinya bukan pilihan, tapi merupakan fase selanjutnya yang sedang disusun olehNya. Di setiap pilihan tersebut juga masih terdapat pilihan-pilihan lain. Misalnya di perusahaan mana, atau kalau melanjutkan sekolah, sekolah di mana. Hidup memang penuh pilihan ya. 🙂

Continue reading “Fase Selanjutnya”

Kepingan Kita

image

Dulu, ketika kita pertama kali bertemu, kita menunduk dan malu-malu. Perlu keberanian untuk sekedar berjabat tangan, menyebutkan nama masing-masing. Setelah itu tersenyum sedikit, lalu diam kembali. Tapi, kenyataan –yang membuat kita harus bersama selama empat tahun– memaksa kita mengikat jiwa-jiwa kita dengan rantai persaudaraan. Agar kita saling tahu. Agar kita menjadi teman. Agar kita bahagia bersama. Pun ketika salah satu di antara kita sedang lemah, kita punya ratusan penyemangat yang selalu ada. Agar dalam perjalanan yang panjang dan melelahkan ini kita punya kawan berbagi.

Menjalani hari-hari di gedung yang bundar itu membuatku sadar bahwa, betapa rantai yang mengikat jiwa kita semakin kuat. Kita bahkan lebih dari sekedar teman, tapi juga saudara. Kita lebih dari sekedar tahu, tapi juga saling memahami. Kita saling merangkul dan menguatkan. Kita saling berbagi sekelumit rasa bernama bahagia. Meski sesekali kita bertengkar dan berbeda pendapat, kita kan tersenyum kembali dan tertawa lagi.

Sebentar lagi, kita akan kembali ke tempat pertama kita bertemu. Tempat di mana kita masih malu-malu untuk sekedar berjabat tangan. Dan kita akan menyusun kembali segala kenangan yang telah kita lalui untuk menuju titik ini. Karena mungkin hari-hari setelah ini kita tak lagi berjalan bersama. Semesta telah menunggu tangan-tangan kita berkarya.

Kenangan-kenangan ini, bawalah hingga ujung semesta paling jauh yang kau jejaki. Saat kau sedang dalam lamunanmu, bukalah dan tersenyumlah. Dan ketika nanti kita bertemu kembali, bawalah kepinganmu. Satukan dengan milikku.

Dongeng Kita

Semesta ini bergerak, dan kita ada di dalamnya. Mengikuti perputaran roda yang membawa semesta dan seisinya ini kepada suatu muara. Semesta ini nyata. Bukan seperti dongeng ksatria, putri, dan bintang jatuh yang tertinggal di awang-awang. Bukan seperti mimpi siang bolong yang kita lamunkan dalam ruang yang berjendela kaca di ketinggian gedung pencakar langit.

Mimpi-mimpi kita nyata. Dalam deretan rencana-rencana yang kita haturkan pada Yang Mahakuasa. Menyerahkan padaNya apa-apa yang berhak kita miliki, meski itu memiliki kehilangan.

Dan hidup itu pilihan. Dongeng mana yang ingin kita bangun, itu pilihan. Tapi ingat, dongeng kita ada pada roda semesta yang berputar pada porosnya. Ada dongeng-dongeng lain di sana yang terkait dengan dongeng yang kita bangun. Dongeng perempuan dan laki-laki lain yang mereka bangun. Dongeng anak-anak yang memiliki cita setinggi langit. Maka kita perlu melihat lebih dekat, dan berjalan lebih jauh. Agar kita mengerti dongeng-dongeng yang ada di semesta ini, yang bukan hanya milik kita sendiri. Dan nanti ketika dongeng kita berakhir, pastikan bahwa sinar kita masih cukup menghidupi semesta ini. Membuat rodanya tetap berputar, hingga sampai pada muaraNya akhir nanti.