Kepingan Kita

image

Dulu, ketika kita pertama kali bertemu, kita menunduk dan malu-malu. Perlu keberanian untuk sekedar berjabat tangan, menyebutkan nama masing-masing. Setelah itu tersenyum sedikit, lalu diam kembali. Tapi, kenyataan –yang membuat kita harus bersama selama empat tahun– memaksa kita mengikat jiwa-jiwa kita dengan rantai persaudaraan. Agar kita saling tahu. Agar kita menjadi teman. Agar kita bahagia bersama. Pun ketika salah satu di antara kita sedang lemah, kita punya ratusan penyemangat yang selalu ada. Agar dalam perjalanan yang panjang dan melelahkan ini kita punya kawan berbagi.

Menjalani hari-hari di gedung yang bundar itu membuatku sadar bahwa, betapa rantai yang mengikat jiwa kita semakin kuat. Kita bahkan lebih dari sekedar teman, tapi juga saudara. Kita lebih dari sekedar tahu, tapi juga saling memahami. Kita saling merangkul dan menguatkan. Kita saling berbagi sekelumit rasa bernama bahagia. Meski sesekali kita bertengkar dan berbeda pendapat, kita kan tersenyum kembali dan tertawa lagi.

Sebentar lagi, kita akan kembali ke tempat pertama kita bertemu. Tempat di mana kita masih malu-malu untuk sekedar berjabat tangan. Dan kita akan menyusun kembali segala kenangan yang telah kita lalui untuk menuju titik ini. Karena mungkin hari-hari setelah ini kita tak lagi berjalan bersama. Semesta telah menunggu tangan-tangan kita berkarya.

Kenangan-kenangan ini, bawalah hingga ujung semesta paling jauh yang kau jejaki. Saat kau sedang dalam lamunanmu, bukalah dan tersenyumlah. Dan ketika nanti kita bertemu kembali, bawalah kepinganmu. Satukan dengan milikku.

Iklan

Dongeng Kita

Semesta ini bergerak, dan kita ada di dalamnya. Mengikuti perputaran roda yang membawa semesta dan seisinya ini kepada suatu muara. Semesta ini nyata. Bukan seperti dongeng ksatria, putri, dan bintang jatuh yang tertinggal di awang-awang. Bukan seperti mimpi siang bolong yang kita lamunkan dalam ruang yang berjendela kaca di ketinggian gedung pencakar langit.

Mimpi-mimpi kita nyata. Dalam deretan rencana-rencana yang kita haturkan pada Yang Mahakuasa. Menyerahkan padaNya apa-apa yang berhak kita miliki, meski itu memiliki kehilangan.

Dan hidup itu pilihan. Dongeng mana yang ingin kita bangun, itu pilihan. Tapi ingat, dongeng kita ada pada roda semesta yang berputar pada porosnya. Ada dongeng-dongeng lain di sana yang terkait dengan dongeng yang kita bangun. Dongeng perempuan dan laki-laki lain yang mereka bangun. Dongeng anak-anak yang memiliki cita setinggi langit. Maka kita perlu melihat lebih dekat, dan berjalan lebih jauh. Agar kita mengerti dongeng-dongeng yang ada di semesta ini, yang bukan hanya milik kita sendiri. Dan nanti ketika dongeng kita berakhir, pastikan bahwa sinar kita masih cukup menghidupi semesta ini. Membuat rodanya tetap berputar, hingga sampai pada muaraNya akhir nanti.

Konflik

Di sebuah senja kesekian di bulan Juli. Langit tak mendung juga tak cerah. Sedang terjadi pergolakan antara banyak sisi dari diri ini.

“Harusnya begini.”
“Tidak, lebih baik begitu.”
“Bukannya kalau begini akan menyenangkan?”
“Bukan bukan, sepertinya yang lain lebih baik.”
“Kalau sekarang begini, apa jadinya nanti?”
“Aku inginnya begini. Tapi kalau begitu juga tak apa.”

Kadang, hobi berbicara dengan diri sendiri agak menyusahkan juga. Seperti tak ada yang bicara tapi sebenarnya banyak. Seperti diam tapi pikiran ini sebenarnya tak henti berkata. Berisik. Tapi hanya bisa didengar oleh diri sendiri.

Kemudian di tengah konflik ini muncul tokoh misterius tak bernama melerai.

“Skenario Allah memang tidak terduga nay. Siapa sangka kita ada di titik ini?  Kadang kita malah bertanya-tanya kenapa bisa berada di titik ini padahal kita punya keinginan di titik yang lain. Kayak gue, gue sering bertanya kenapa gue masuk jurusan A padahal gue passionnya di B. Gue bisa aja milih masuk jurusan terkait B. Tapi gue gak mau nyebut diri gue salah jurusan, cuma mungkin ada sesuatu yg mau Allah kasih dgn lika-liku kehidupan kita. Mungkin nggak terjawab sekarang, mungkin nanti, entah kapan haha. Yg penting bersyukur sama yg udah kita dapat sama bersabar aja”

Kemudian mereka yang berkonflik dalam pikiran ini tenang kembali.

Senja Terakhir di Bulan Ramadhan.

“Ini senja terakhir kita.”

Aku tahu.

“Mengapa kau hanya diam?”

Bagaimana aku bisa bicara. Sedangkan aku tak lagi bisa bersamamu. Bersama malam-malam penuh ketenangan. Bersama rasa penuh kerinduan akan ampunanNya. Bersama masa di mana pahala kebaikan dilipatgandakan.

“Aku akan pergi.”

Aku tahu. Dan mungkin aku belum cukup baik ketika membersamaimu. Mungkin aku belum cukup sempurna dalam menjamumu. Mungkin aku belum cukup membuktikan bahwa rindu kepadamu adalah definisi rindu terbaik yang pernah ada. Maafkan aku.

“Hei?”

Dan dalam 11 bulan yang akan datang, definisi rindu terbaik itu kan kembali diuji dengan yang sebenarnya. Bagaimana pribadi ini setelah 29 senja bersamamu. Bagaimana sujudku, amalanku, akhlakku, saat tak lagi bersamamu. Menjelma menjadi apa rindu yang menggebu bersamamu.

Malam telah naik ke langit. Dan senja ini adalah senja terakhir di bulan Ramadhan. Dan kita berpisah dengannya dalam kalimat takbir yang menggema sampai ke sudut semesta.

Semoga Allah berkenan menerima amal kita. Mohon dimaafkan atas kesalahan-kesalahan di masa yang lalu.

yang tak bisa puasa puisi,
Dipta Tanaya

View on Path

Di Samping Jendela

Dalam perjalanan, dengan apapun dan dengan siapapun, aku selalu memilih untuk duduk di dekat jendela. Karena mata kita bisa melihat keluar, jauh ke depan. Tak terbatas pada dinding-dinding kereta. Karena pikiran kita bisa berjalan lebih jauh dari tubuh kita. Tak terbatas pada realita-realita yang ada.

Kita bisa menerawang masa depan atau masa lalu, tergantung pada pilihan yang mana kita akan berlabuh. Pada masa lalu yang berkelebat satu per satu, seperti film yang diputar di jendela, kita akan belajar. Belajar memahami apa-apa yang telah kita lalui. Belajar mengambil hikmah dari setiap kisah yang telah lalu. Pun pada jendela itu, bisa juga hadir yang telah rapi dalam kenangan. Lalu kita mengenang (si)apa-(si)apa yang pernah hadir dalam hidup kita. Mengenang apa-apa yang kita capai, yang belum, dan yang akan kita capai.

Lalu bayangan masa depan seketika hadir. Kota-kota yang akan kita kunjungi, baik sendiri ataupun bersama yang ada di hati. Menara-menara yang akan kita jejaki puncaknya. Stasiun-stasiun kereta yang akan kita sambangi. Kampus-kampus terbaik di dunia yang akan kita datangi. Negara-negara yang akan kita singgahi. Capaian-capaian yang akan kita genggam. Dan mungkin, siapa-siapa yang akan kita temui.

Selamat melakukan perjalanan, selamat mengambil pelajaran. Dari manapun itu, dari siapapun itu.

Dipta Tanaya
15.02 | di dalam sebuah gerbong kereta

View on Path

Suci.

image

Namanya Suci. Orang yang bisa dibilang paling dekat selama 4 tahun di kampus ini. Dulu, kami saling kenal karena suatu kebetulan, “Kok kita sekelas terus ya”. Ah, mungkin bukan kebetulan. Semester 1 kami ditakdirkan duduk di kelas yang hampir semuanya sama, dan perjalanan dimulai.
Namanya Suci. Menurut dia, naya itu orangnya datar, banyak diemnya, walaupun kadang tidak jelas. Ia paham bahwa naya tidak bisa “so sweet” di dunia nyata seperti membawakan kue ulang tahun di pagi buta, atau membawakan selempang saat sidang, atau yang lainnya. Ia paham bahwa naya lebih suka bersuara lewat tulisan, berkespresi lewat aksara, dan semacamnya. Jadi, jika ia mendapati naya datar dan tidak sweet di dunia nyata, itu biasa.
Namanya Suci. Kami paham bahwa kami sungguh berbeda. Suci yang sisi ekstrovertnya muncul ketika kami bersama. Naya yang mau bagaimanapun akan membawa introvertnya yang kadarnya 97%. Suci yang hobinya gambar, naya yang hobinya nulis. Suci yang bisa begadang, naya tak bisa tidur di atas jam 12 malam. Suci yang suka mencoba banyak hal, Naya lebih suka mengikuti intuisi ke mana akan pergi.
Namanya Suci. Allah mengirimkannya ke dunia ini, salah satunya untuk belajar bersama di sini. Bukan hanya belajar soal coding saja, tapi belajar tentang bagaimana seharusnya memandang hidup. Bagaimana masing-masing dari kami memandang masa depan, cita-cita, dan mungkin asmara (?). Lalu bercerita, berdiskusi, bantah-membantah, lalu tertawa bersama.
Terima kasih Suci atas 4 tahun ini. Jika suatu saat nanti kita menemui persimpangan jalan, pastikan bahwa kita akan terus merawat persaudaraan.

kelana ramadhan #21

waktu semakin ambigu
sebentar cepat berlalu
saat sadar bahwa Ramadhan tinggal seminggu
sebentar terasa lambat karena malu-malu
hati membuncah memendam rindu

sujud-sujud itu
tangis-tangis itu
tengadah tangan ke langit
harapan-harapan yang melangit
doa-doa yang dipanjatkan
amal-amal yang dilakukan
semoga Allah lembutkan hati kita
agar terus taat pada jalanNya

yang tak bisa puasa puisi,
@diptatanaya